Rabu, 25 Januari 2017

Apakah Kita Orang Tua yang Dirindukan dan Selalu Dinanti Kehadirannya?

" Apakah Kita Orang Tua yang Dirindukan dan Selalu Dinanti Kehadirannya?"

Demikian kalimat pembuka yang saya sampaikan ketika mengisi kelas diskusi orang tua siswa di sekolah tempat saya mengabdi. Disampaikan dengan nada serius, sedikit menekan, menunjukkan betapa kalimat kunci tersebut sangat sarat makna dan pesan.
Para orangtua siswa pun dengan seksama memerhatikan kata demi kata, kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut saya. Ya, sebagai orangtua, mungkin mereka merasa sangat penting untuk menyimak apa yang hendak saya sampaikan. Atau mungkin saja merasa ‘tersindir’ dengan kesimpulan tersebut.
Terlepas dari itu, saya secara pribadi sangat meyakini ungkapan pembuka tersebut.
Orangtua adalah sandaran paling kuat bagi saya. Bukan hanya itu, kehadirannya yang penuh makna dan kasih sayang selalu menghangatkan malam yang dingin. Kemampuannnya menyediakan lingkungan yang baik membuat saya bertumbuh dan mampu mengembangkan potensi.
Orangtua adalah teman pertama dan utama bagi saya dalam mengukir kenangan indah dan bahagia semasa hidup khususnya di masa kecil.
Bercermin dari mereka, sayapun ingin melakukan hal yang sama kepada anak-anak saya kelak. Meskipun saya sadar bahwa hal itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Melihat dan menelisik beberapa teman-teman yang sudah lebih dahulu menjadi orangtua, saya menyimpulkan bahwa tidaklah mudah untuk mengakui dan menyadari bahwa kita adalah orangtua secara lahir dan batin.
Katherine Ellison, jurnalis pemenang Pulitzer, editor, dan penulis ini, menyatakan bahwa menjadi orangtua akan membuat hidup kita menjadi lebih kreatif. Para orangtua biasanya memiliki motivasi untuk terus berkembang, selalu ingin memperbaiki diri, menjadi lebih visioner, tidak egois, bijaksana, lebih sabar, penuh syukur, bergairah menjalani hidup, lebih rajin, serta lebih mengenali sifat diri kita dan orang lain.
Namun nyatanya, menjadi “orangtua” tidak menjadi jaminan selamanya akan melahirkan kreatifitas, kebijaksanaan, kesyukuran, kesabaraan, visi masa depan--sebagaimana banyak terjadi di sekeliling kita, atau mungkin seperti pengalaman kita masing-masing.
Terkadang, kita punya hajatan keluarga, atau acara arisan teman kantor dan reunian sahabat lama. Lazimnnya, karena lama tak ketemu, sejumlah cerita dan kenangan akan diputar ulang kembali dalam acara tersebut. Demikian halnya dengan perkembangan karir, keluarga termasuk anak-anak menjadi bahan nostalgia bersama. Terasa ingin berlama-lama bersama teman lama. Curahan hati tak kunjung berakhir.
Namun, suasana bahagia tersebut acapkali terganggu dengan tingkah si kecil yang mulai rewel. Biasanya 15 menit sampai 30 menit pertama, si kecil masih bisa bersikap manis. Masih bisa diatur. Hanya saja, tak lama kemudian anak sudah mulai bertingkah. Susah diatur, bahkan menangis kencang, tidak mau diam.
Dalam kondisi seperti ini, seringkali saya menyaksikan orangtua kehilangan kendali. Kehilangan kesabaran, apalagi kreatifitas. Yang terjadi malah wajah mulai tak bersahabat, mata melotot, suara yang meninggi bahkan mencubit kiri kanan. Jadinya, bukannya anak bisa diam dan diatur malah semakin rewel dan menangis.
Atau pada kasus yang lain, misalnya, di pagi hari, dimana kita seharusnya bergegas bangun menyambut segarnya udara pagi. Sejatinya menyiapkan sarapan sehat dengan dengan penuh cinta, membelah hangatnya mentari dan menjemput karir yang cemerlang dengan penuh semangat.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, kecerian menjadi suram, semangat menjadi tekanan dan menegangkan. Urat syaraf mengencang, jantungpun berdetak kencang, suara meninggi dan mata melotot. Betapa tidak, waktu terasa cepat merampas kehangatan bersama keluarga di waktu pagi. Yang terngiang-ngiang hanyalah ketakutan terlambat masuk kerja. Dampaknya pun merembet ke mana-mana. Anak-anak pada khususnya. Semuanya serba tergesa-gesa. Anak-anak dipaksa mandi, sarapan bagaikan kilat, dan berangkat ke sekolah serba cepat. Akibatnya, hanyalah deraian air mata.
Bukan hanya itu, biasanya kata-kata nasehat terdengar seperti ancaman dan bentakan. Tetesan air mata yang mengalir dipipi si mungil menyertainya hingga sampai di sekolah. Hangatnya mentari tak sehangat perasan orangtua tersebut, lebih-lebih si anak. Pagi yang sejuk dan hari yang ceria hanya menjadi mimpi belaka baginya. Akhinya, kehangatan pagi berubah bagaikan neraka siap menerkam mereka.
Masihkah orangtua seperti itu terdekat dan tidak pernah menyakiti?
Tentu kita sepakat mengatakan “TIDAK”.
Lalu orangtua yang seperti apakah yang terdekat dan tidak pernah menyakiti? Orangtua yang bagaimanakah yang selalu dirindukan dan dinanti kedatangannya serta dicari oleh anak-anaknya? Jawabnya ada pada anak-anak.
Tanya mereka!
Apabila mereka sedang berada di samping kita, peluk dengan penuh kehangatan dan tanyalah! Karena sudut pandang mereka berbeda dengan sudut pandang kita. Jawaban yang akan kita peroleh dari mereka, saya pastikan, adalah jawaban luar biasa di luar dugaan kita
By : Sahabat TerbaikQ (JUsmiati Usman, S.Psi, Psikolog)

Jumat, 12 Februari 2016

Saatnya untu Menghilangkan sisa Kolonialisme Warisan Penjajah di Wajah Pendidikan Indonesia


Apabila kita bertanya mengapa kurikulum sekolah di Indonesia sedemikian berbeda dengan kurikulum sekolah di Amerika, maka jawaban yang paling sederhana adalah karena kita mewarisi kurikulum “budaya” kolonial Belanda sebagai pihak yang meletakkan dasar pendidikan di Indonesia saat mereka “hadir” selama 350 tahun lamanya.

Namun ternyata tidak hanya model kurikulum pendidikan saja yang ditanamkan oleh para kolonial tersebut di Indonesia, kemana kita hendak mengambil jurusanpun terpengaruh oleh akal-akalan mereka. Mengapa demikian? Kita tentu masih ingat saat kita SMA dahulu harus menjalani test IQ untuk penjurusan. Umumnya sekolah menetapkan bahwa murid dengan IQ tinggi bisa masuk ke jurusan IPA (A1/A2). Murid dengan IQ sedang sebaiknya masuk jurusan IPS (Sosial/A3) dan sisanya hanya mendapat kursi di jurusan Bahasa (A4). Di sinilah ternyata pengaruh akal-akalan para kolonial masih bersisa pada kita sampai saat ini.

Romo Mangun Wijaya (alm.) pernah berpendapat bahwa anak-anak yang kecerdasannya tinggi seharusnya juga diarahkan untuk masuk jurusan Sosial agar di masa mendatang akan lahir ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta besar, maupun politisi yang hebat. Namun rupanya hal seperti ini tidak dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Penguasa menginginkan anak-anak yang cerdas tidak memikirkan masalah sosial politik. Mereka cukup diarahkan untuk menjadi tenaga ahli/scientist, arsitektur, ahli matematika atau dokter  yang hanya akan asyik dengan science di laboratorium sehingga tidak membahayakan posisi penguasa.

Paradigma akal-akalan Belanda ternyata masih sangat mempengaruhi pola berpikir orang tua/masyarakat kita saat  ini, bahkan turut mempengaruhi konsep kesuksesan pada diri anak.
Pada suatu kesempatan, di muka 800-an anak, Kak Seto menunjukkan 5 Rudy:
1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) – genius, penggagas IPTN.
2 : Rudy Hartono – juara bulu tangkis kelas dunia.
3 : Rudy Salam – pemain film dan sinetron.
4 : Rudy Hadisuwarno – seniman kecantikan.
5 : Rudy Choirudin – ahli kuliner / memasak.

Kak Seto pun bertanya, “Rudy yang mana yang paling sukses menurut kalian?”
Hampir semua anak menjawab “Rudy Habibie”
Sewaktu ditanyakan “Mengapa kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy Habibie?”
Anak-anakpun menjawab, “Karena bisa membuat pesawat terbang.”
Sewaktu Kak Seto menanyakan “Rudy yang mana yang paling tidak sukses?”
Hampir seluruh anak menjawab “Rudy Choirudin”
Ketika ditanyakan “Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan orang yang sukses?”
Anak-anakpun menjawab, “Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak”

Masyarakat kita umumnya masih beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya. Namun pada kenyataannya EQ, SQ dan faktor-faktor lain juga sangat menentukan kesuksesan seseorang.

Kesuksesan di sini tentunya jangan hanya diukur dari seberapa besar penghasilan seseorang, namun juga sampai sejauh mana ia dapat mengembangkan talentanya secara optimal sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang akan dijalaninya.

Anak-anak dan orang tua harus menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan. Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai kesuksesan di “bidangnya”. Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar matematika, tentunya mereka tidak perlu minder dan orang tua tidak perlu malu atau menekan anak. Anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar tentunya tidak serta merta dikategorikan sebagai anak yang bodoh, karena menggambar memerlukan imajinasi serta ide yang tinggi, yang menjadi dasar sebuah penemuan baru. Anak yang suka mendominasi pembicaraan pun, kalau kita arahkan dengan baik kelak dapat menjadi politisi atau negotiator yang ulung.

Kitapun sebaiknya meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap kita (manusia) dengan maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita meyakini hal tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.

#jendela hati

Kamis, 17 Desember 2015

Mothers Day... 22 Desember 2015



Sejarah dan Makna Peringatan Hari Ibu 22 Desember!
Mari kita kembali ke masa lalu tepatnya pada tanggal 22 s/d 25 Desember 1928 bertempat di Yogyakarta, para pejuang wanita Indonesia dari Jawa dan Sumatera pada saat itu berkumpul untuk mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I (yang pertama). 

Kalau melihat kembali sejarah, sebenarnya sejak tahun 1912 sudah ada organisasi perempuan. Pejuang-pejuang wanita pada abad ke 19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain secara tidak langsung telah merintis organisasi perempuan melalui gerakan-gerakan perjuangan.

Pada Konggres Perempuan Indonesia I yang menjadi agenda utama adalah mengenai persatuan perempuan Nusantara; peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan; peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain sebagainya.

Secara resmi tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu adalah setelah Presiden Soekarno melalui melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.

Pada awalnya peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Misi itulah yang tercermin menjadi semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama.

Kalau kita melihat sejarah betapa heroiknya kaum perempuan (kaum Ibu) pada saat itu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, apakah sepadan dengan peringatan Hari Ibu saat ini yang hanya ditunjukkan dengan peran perempuan dalam ranah domestik. Misalnya dalam sebuah keluarga pada tanggal tersebut seorang ayah dan anak-anaknya berganti melakukan tindakan domestik seperti masak, mencuci, belanja, bersih-bersih, dan kemudian memberikan hadiah-hadiah untuk sang ibu. 

Peringatan Hari Ibu di Indonesia saat ini lebih kepada ungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.  

Demikianlah info mengenai Sejarah Dan Makna Peringatan Hari Ibu 22 Desember semoga bermanfaat, dan Selamat Hari Ibu 22 Desember.

Sumber: infonews