Kamis, 30 Januari 2020

KIDS FESTIVAL PINRANG 2020, ajang prestasi dan kolaborasi anak

 

Dont Miss the Moment!!!

KIDS FESTIVAL PINRANG 2020, ajang prestasi dan kolaborasi anak 

Karakteristik Anak Usia Dini
Karakteristik setiap anak tentu berbeda satu dengan yang lain. Hal ini sangat penting diperhatikan orangtua atau pendidik. Karakteristik anak usia dini tersebut antara lain:

(1) Anak sangat peka terhadap lingkungan sekitarnya mulai dari apa yang mereka lihat. Hingga rasa ingin tahu mereka yang sangat tinggi.
(2) Anak usia dini bersifat egosentris, dia tidak terlalu mempedulikan perkataan dan perbuatan orang lain karena menganggap dirinya yang benar.
(3) Masa pembangkangan merupakan hal yang harus diperhatikan oleh orang tua. Jika tidak maka akan berdampak buruk pada karakter anak pada saat dewasa nantinya.
(4) Masa imitasi atau meniru, anak senang meniru dengan hal-hal yang mereka lihat.
(5) Berkelompok, ialah mengenai kelompok bermain anak. Mereka lebih menyukai bermain di luar bersama teman sebayanya daripada hanya bermain di rumah saja.
(6) Eksplorasi, sangat tepat jika pendidik mempunyai berbagai macam alat bermain dan permainan yang dapat membuat anak selalu antusias untuk mengikuti pengajaran dan menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak.
Memperhatikan karakteristik anak di atas, maka dalam Pendidikan Anak Usia Dini seorang pendidik sebaiknya menggunakan tiga pendekatan. Yaitu, Learning by Playing, Learning by Doing, dan Learning by Stimulating.
Dari uraian di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa pendidikan anak usia dini perlu dimulai sejak dini. Bahkan orang tua dapat mengasahnya mulai balita. Ini karena anak yang dididik sejak dini mempunyai perbedaan yang sangat mencolok daripada anak yang kurang mendapat perhatian tentang pendidikan.
Kompetisi untuk anak, pentingkah?
Bagi sebagian orang tua, kompetisi hal yang perlu dihindarkan dari anak. Cemas kompetisi akan memberi tekanan dan stres pada anak, orang tua berusaha menjauhkan anak dari persaingan. Mereka membentengi anak dari kekecewaan dengan selalu mengatakan “semua anak adalah pemenang”.
Benarkah tidak pernah merasakan kemenangan atau kekalahan membawa kebaikan untuk anak? Tidak juga. Para ahli tumbuh kembang anak menyebutkan, kompetisi secara sehat bisa memberi dampak positif.
Selain mempersiapkan mereka melalui pengalaman menang dan kalah—hei, mereka tidak akan selalu mendapat apa yang mereka mau kelak—berkompetisi membantu mereka mengembangkan beberapa kemampuan yang akan berguna ketika mereka dewasa, seperti menunggu dan mengambil waktu giliran, empati, keuletan, dan kepercayaan diri.
“Kompetisi membantu anak memahami bahwa tidak harus selalu menjadi yang terbaik atau terpintar untuk menjadi sukses, tetapi kesuksesan akan datang kepada mereka yang bekerja keras dan gigih,” bilang Dr. Timothy Gunn, Psy.D, neuropsikolog pediatri pemilik Gunn Psychological Services, Inc. di California Selatan, dan salah satu juri acara Child Genius: Battle of the Brightest di kanal berbayar Lifetime. “Anak-anak yang terlibat dalam kompetisi akan mempelajari keterampilan sosial melalui interaksi dengan anak-anak lain, juga belajar soal nilai bekerja keras dan mengembangkan kepercayaan diri.”
Ciri-ciri kompetisi sehat dan tidak sehat
Agar manfaat kompetisi dirasakan anak, orang tua harus memastikan atmosfer kompetisi yang sehat dan membangun untuk mereka. Bagaimana mengetahui sebuah kompetisi sehat untuk mereka? Anak-anak tidak selalu bisa mengomunikasikannya dengan Anda. Namun ada beberapa ciri yang perlu diamati ketika anak terlibat dalam sebuah kompetisi.
Jika kompetisi berjalan dengan sehat, mereka akan menunjukkan reaksi:
1. Meminta ikut serta di kompetisi sejenis di waktu lain.
2. Bisa menerima kemenangan atau kekalahan dengan tenang tanpa emosi berlebihan.
3. Ada kemampuan baru yang mereka pelajari dan termotivasi untuk menjadi lebih baik serta terlihat bahagia dan menikmati proses peningkatan rasa percaya diri.
Sementara itu kompetisi yang tidak sehat akan terlihat dari kondisi anak sebagai berikut:
1. Menolak mengikuti kompetisi sejenis di waktu lain.
2. Berpura-pura sakit atau menghindari dengan mengatakan kebohongan lain ketika akan menghadapi kompetisi.
3. Menunjukkan gejala depresi, kecemasan, sulit tidur, atau kehilangan nafsu makan bahkan setelah kompetisi usai. “Kebanyakan anak yang berkompetisi mengalami kecemasan saat menghadapi pertandingan atau audisi besar, namun tidak perlu khawatir berkepanjangan hingga memengaruhi hal-hal lain dalam hidup mereka,” Gunn memperingatkan.
Bantu anak berkompetisi secara sehat
Mengalami kekalahan atau nyaris menang tidak selalu mudah untuk anak-anak, tetapi Anda selalu dapat membantu anak berpikir positif tentang kompetisi. Untuk permulaan, bantu anak mendefinisikan keberhasilan dalam kompetisi. Katakan, keberhasilan dalam kompetisi tidak selalu diartikan dengan memenangi piala, tetapi buatlah tujuan tersendiri dan tanamkan dalam benak anak. Misalnya, anak telah mencapai keberhasilan bila berani tampil di depan umum tanpa rasa malu.
“Saya meyakini bagian dari mengembangkan kompetisi yang sehat adalah ketika anak belajar bahwa kompetitor terberat adalah diri sendiri,” jelas Gunn. Alih-alih berkonsentrasi mengalahkan orang lain, minta anak fokus mengalahkan rasa takut, rasa tidak percaya diri mereka, atau mengalahkan rekor terakhir mereka sendiri.
Gunn membagi pengalaman menyertakan anaknya yang berusia 5 tahun dalam perlombaan lari. Di perlombaan pertama, sang anak menjadi pelari di garis paling belakang.
“Kami memberitahunya, kami tidak ingin ia mengkhawatirkan tentang betapa cepatnya anak-anak lain berlari, tetapi fokuslah pada waktu yang ia tempuh sendiri,” ungkapnya.
“Kami membuat target waktu sendiri yang harus ia tempuh, jadi perspektifnya berubah dari berkompetisi melawan anak-anak lain menjadi berkompetisi melawan kemampuannya sendiri.”
Hasilnya, si anak menikmati sebuah kekalahan sebagai keberhasilan mengalahkan targetnya sendiri. “Dia terus menikmati perlombaan lari hingga menyeberang negara bagian, meski sering menjadi anak terakhir yang melewati garis finis,” pungkas Gunn di berita https://gaya.tempo.co/read/757970/pentingnya-kompetisi-bagi-tumbuh-kembang-anak/full&view=ok


Selasa, 03 Desember 2019

KIsah Eyang Habibie dan Pesawat, kisah inspiratif untuk anak...

Sungguh...
Engkau slalu hidup dalam Hati kami...
dan, menjadi inspirasi tuk anak cucu kami...

Sepekan setelah kembalimu ke pencipta,
mata kami masih basah oleh air mata,
mengenang kisah cinta dan asamu,
cintamu akan bangsa ini
Asamu tuk perjuangan...



sepekan setelah pusaramu tertutup oleh tanah,
bibir kami masih tetap basah dalam doa-doa lirih,
mendoakan kekasih dan dirimu,
yang bersua tuk melanjutkan perjalanan...
sungguh indah, sungguh membuat kami iri...

Habibie pedda ulunna,
Nataro kappala luttu...
Lagu masa kecil,
Yg menggambarkan betapa Habibie sangat identik dengan pesawat terbang pada kami anak bangsa...

Semoga, R-80 segera terbang mengangkasa,
Menyatukan Nusantara...
Impian terakhirmu...
e~SchooL, 17 September 2019

Minggu, 01 Desember 2019

Bagaimana APE (Alat Peraga Edukatif) Anak di PAUD Jepang ? (Catatan Kunjungan di Paud Jepang, 2019)

Apa itu Alat peraga edukatif atau disingkat APE di PAUD?


Pengertian APE PAUD (Alat Permainan Edukatif) Menurut Para Ahli –adalah alat permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan (Mayke Sugianto, 1995).

Tidak terlalu jauh berbeda dengan pengertian atau definisi alat permainan edukatif di atas, Direktorat PADU, Depdiknas (2003) mendefinisikan alat permainan edukatif sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai sarana atau peralatan untuk bermain yang mengandung nilai  edukatif (pendidikan) dan dapat mengembangkan seluruh kemampuan anak.


Untuk dapat melihat dan memahami secara lebih mendalam mengenai apakah suatu alat permainan dapat dikategorikan sebagai alat permainan edukatif untuk anak TK atau tidak, terdapat beberapa ciri yang harus dipenuhinya yaitu:
  1. alat permainan tersebut ditujukan untuk anak PAUD
  2. difungsikan untuk mengembangkan berbagai perkembangan anak PAUD
  3. dapat  digunakan  dengan  berbagai  cara,  bentuk,  dan  untuk  bermacam  tujuan  aspek pengembangan atau bermanfaat multiguna
  4. aman atau tidak berbahaya bagi anak
  5. dirancang untuk mendorong aktifitas dan kreatifitas anak
  6. bersifat konstruktif atau ada sesuatu yang dihasilkan
  7. mengandung nilai pendidikan
Alat permainan edukatif merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran anak di PAUD (TK KB TPA SPS). Ketersediaan alat permainan tersebut   sangat menunjang terselenggaranya pembelajaran anak secara efektif dan menyenangkan sehingga anak-anak dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal.


Nah, Pertanyaan selanjutnya..

Bagaimana sih alat peraga edukatif di PAUD Jepang yang menjadi rujukan pendidikan anak usia dini yang konon kabarnya terbaik di bidang pendidikan anak usia dini?
Berdasarkan beberapa referensi dan pengamatan langsung di Hoikuen Jepang, inilah beberapa foto alat peraga tersebut :










Ternyata..... mungkin jauuuuh dari bayangan kita.
Jepang yang notabenenya adalah negara maju dengan teknologi yang sangat canggih, ternyata memanfaatkan sampah untuk pembuatan alat peraga...

Jadi, jangan pernah berkecil hati dan patah semangat dengan keterbatasan dana atau lembaga, 

Karena, sampah pun bisa menjadi alat peraga edukatif yang sangat menyenagkan dan menarik untuk anak-anak kita...

SO, yuk semakin semangat dan kreatif dalam membersamai anak-anak didik serta anak-anak kita dirumah demi perkembangan dan stimulasi tepat untuk anak yang hebat..


#sederhanapenuhmakna
#rumahbermainpenuhcintadanCita

Bagaimana PAUD di JEPANG (Catatan Perjalanan Ketua Lembaga Pendidikan e~SchooL)

Perjalanan sangat berharga...

Mengunjungi dua Houikuen di Jepang,
Serasa ingin terlahir kembali membangun pendidikan di daerah kami...
Sungguh, betapa berbedanya sistem pendidikan yg negara maju jalankan,
Jangankan pembelajaran calistung di usia 5-6, pembelajaran khusus angka 1,2,3 belum mereka fokuskan...


Di Houikuen pertama, mereka memfokuskan pada #Otak yang cerdas, #Hati yang bersih, dan #Tubuh yang sehat, sebuah kesatuan arah tujuan dalam pendidikan di sekolah dan orang tua...
Tidak ada pelajaran khusus agama, menghafal, atau beribadah.. tapi mengapa Karakter mereka lebih Islami dibandingkan org Islam sekalipun???

Di Houikuen kedua bahkan, mereka hanya memfokuskan pada #Panca #Indera anak, semua aktivitas hanya terfokus pada panca Indera Anak...
Tapi, mengapa pendidikan di negara Jepang lebih maju dibandingkan kita, yg sejak usia dini menuntut anak bisa calistung???
Jawabannya adalah sistem pendidikan kita, yg ikut2an, ada yg bagus ikut saja, tanpa tahu apa makna dibaliknya,
Pun juga ketakutan tidak pandai berhitung, ketakutan tak bisa baca, atau sekedar supaya anak kita "lebih" dari anak tetangga atau keluarga lainnya...

Sungguh, mereka menerapkan kesederhanaan tapi penuh makna,
Sungguh, mereka fokus pada anak, pada kebahagiaan anak, pada tiap detail perkembangan anak, tanpa khawatir akan tertinggal dari sekolah lain...

Yah, saatnya berbalik arah...
Bukan angka, huruf, atau hafalan yg penting bagi anak usia dini...
Tapi jauh lebih di atas itu semua,
Kesadaran akan diri dan pencipta,
Hingga terbentuk karakter sederhana penuh makna,
Hingga terbentuk anak bahagia penuh cinta...
Siap mengaplikasikan ilmu dan pengalaman berharga ini?
Tk Islam Plus eSchooL (4-6y)
PlayGroup Islam Plus eSchooL (2,5-4y)
DayCare/Penitipan Anak(1,5 - 6y) 

Taman Baca Anak &Orang Tua😘